SUKABUMI- Di sebuah Masjid sederhana, deretan wajah kecil duduk rapi di atas alas lantai. Sebagian menggenggam kotak makan, sebagian lain menatap kamera dengan senyum malu-malu. Hari itu bukan sekadar makan bersama, melainkan momen kebahagiaan yang jarang mereka rasakan.
Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi menghadirkan kehangatan melalui kegiatan Makan Bersama (Mabar) dan Santunan Anak Yatim Piatu. Di tengah keterbatasan, kebersamaan menjadi hadiah paling berharga bagi anak-anak yang hadir. Tawa kecil, obrolan sederhana, dan doa yang terucap lirih menyatu dalam suasana penuh haru.

Bagi mereka, satu porsi makanan bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi juga tentang rasa diperhatikan dan dihargai. Kehadiran relawan PMI yang setia mendampingi membuat anak-anak merasa aman dan nyaman, seolah memiliki keluarga yang selalu siap menemani.
Sebelum santunan dibagikan, doa bersama dipanjatkan. Tangan-tangan kecil terangkat, memohon masa depan yang lebih baik, kesehatan, dan kebahagiaan. Di momen itulah, harapan tumbuh bahwa esok hari akan selalu ada orang-orang baik yang peduli.

Melalui kegiatan ini, PMI Kota Sukabumi tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Sebab bagi anak-anak yatim piatu, perhatian dan kebersamaan adalah penguat hati untuk terus melangkah dan bermimpi.
Kegiatan sederhana ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Terkadang, ia datang lewat sepiring nasi hangat, segelas minum, dan waktu yang diluangkan dengan tulus. Di tengah rutinitas relawan PMI yang kerap berhadapan dengan situasi darurat dan bencana, momen makan bersama anak-anak yatim piatu ini justru menjadi ruang untuk memulihkan rasa baik bagi penerima maupun pemberi.

Beberapa anak terlihat saling menyuapi temannya, ada pula yang bercerita pelan kepada relawan di sampingnya. Di balik keceriaan itu, tersimpan kisah kehilangan yang tak mudah diucapkan. Namun hari itu, duka seakan diredam oleh tawa dan kehangatan yang tercipta. PMI hadir bukan untuk menggantikan peran orang tua, tetapi untuk memastikan mereka tidak merasa sendiri.
Relawan PMI menyadari, perhatian kecil mampu meninggalkan jejak besar di hati anak-anak. Sentuhan di pundak, sapaan lembut, hingga senyum tulus menjadi bahasa kasih yang mudah dipahami oleh mereka. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang terus dijaga dan diwariskan, agar empati tumbuh sejak dini.
Melalui program Makan Bersama dan Santunan Anak Yatim Piatu ini, PMI berharap dapat terus menjadi jembatan kebaikan bagi masyarakat. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk berbagi. Dan di balik senyum kecil anak-anak itu, tersimpan harapan besar—tentang masa depan yang lebih cerah, penuh cinta, dan kepedulian. Karena bagi PMI, kemanusiaan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati.




