Kota Sukabumi — Setiap kali bencana terjadi, perhatian publik seketika tertuju pada lokasi terdampak. Bantuan berdatangan, relawan bergerak, dan solidaritas masyarakat menguat. Namun, di balik hiruk-pikuk penanganan darurat, ada satu fase krusial yang kerap luput dari perhatian, yakni pengurangan risiko bencana (PRB). Upaya ini sering berjalan dalam senyap, meski memiliki peran vital dalam meminimalkan dampak dan korban bencana.
Pengurangan risiko bencana sejatinya merupakan upaya sistematis yang dilakukan sebelum bencana terjadi, melalui edukasi, mitigasi, dan peningkatan kesiapsiagaan. Sayangnya, karena tidak menghadirkan dampak yang terlihat secara langsung, PRB kerap dianggap tidak mendesak. Tidak ada sirene, tidak ada puing bangunan, dan tidak ada korban jiwa yang memantik empati publik secara instan.

Padahal, Indonesia merupakan wilayah rawan bencana dengan berbagai potensi ancaman, mulai dari gempa bumi, banjir, longsor, hingga cuaca ekstrem. Dalam situasi ini, kelompok rentan menjadi pihak yang paling berisiko terdampak, termasuk anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Satuan pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, juga masuk dalam kategori kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus dalam upaya PRB.
Di tengah kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi terus melakukan ikhtiar nyata dengan menggelar edukasi dan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada kelompok rentan. Salah satu fokus utama yang dilakukan adalah penguatan kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Ikhtiar tersebut diwujudkan melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang dilaksanakan melalui kerja sama antara PMI Kota Sukabumi dan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Sukabumi. Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di satuan pendidikan yang selama ini sering luput dari perhatian.
Melalui program SPAB, PMI Kota Sukabumi memberikan edukasi kebencanaan yang disesuaikan dengan konteks sekolah dan usia peserta didik. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis-jenis bencana, kajian risiko sederhana di lingkungan sekolah, pengenalan peta dan jalur evakuasi sekolah, serta latihan evakuasi mandiri di lingkungan satuan pendidikan.

Seluruh materi disampaikan dengan pendekatan ramah anak melalui metode bermain, bercerita, dan simulasi sederhana agar mudah dipahami dan tidak menimbulkan rasa takut.
Kegiatan edukasi ini tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga melibatkan guru dan tenaga pendidik. Dengan demikian, sekolah diharapkan memiliki pemahaman awal mengenai kesiapsiagaan bencana dan mampu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan tangguh.
Sejalan dengan United Nations Convention on the Rights of the Child (UNCRC), anak memiliki empat hak dasar yang harus dipenuhi, yaitu hak atas kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan, perlindungan, serta partisipasi. Dalam konteks pengurangan risiko bencana, anak-anak bukan hanya kelompok rentan yang perlu dilindungi, tetapi juga memiliki potensi untuk dilibatkan secara aktif dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.

Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan kebencanaan yang memadai, anak-anak dapat menjadi penyampai informasi di lingkungan sekitarnya serta mengetahui tindakan yang tepat saat bencana terjadi. Untuk mendukung hal tersebut, pendidikan kebencanaan perlu ditingkatkan dan diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di satuan pendidikan.
Selain anak-anak, pengurangan risiko bencana juga perlu dilakukan secara inklusif dengan melibatkan kelompok rentan lainnya, seperti penyandang disabilitas, lansia, dan perempuan, sesuai dengan kapasitas dan perannya masing-masing. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar PRB tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Melalui berbagai upaya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan, PMI Kota Sukabumi berharap pengurangan risiko bencana tidak lagi menjadi upaya yang sepi, melainkan tumbuh menjadi kesadaran kolektif masyarakat. Sebab, bencana tidak pernah benar-benar datang secara tiba-tiba yang sering kali terlambat adalah kesiapan kita dalam menghadapinya.




