Rasa haru menyeruak di tengah kegiatan doa bersama dan santunan bulanan yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi, Jumat (1/8). Di antara anak-anak yatim yang hadir, tiga bersaudara tampak duduk tenang, menyimpan kisah pilu yang membuat siapa pun yang mendengarnya tak kuasa menahan empati.
Mereka adalah Resti (6), dan Rosi (4) dan Raisa (balita). Anak-anak piatu yang kini hanya hidup bersama sang ayah, Miftah (60), yang menderita stroke dan tak lagi mampu bergerak atau berbicara dengan jelas. Sang ibu meninggal dunia saat mereka masih kecil, meninggalkan tiga anak dengan masa depan yang menggantung di tengah kemiskinan dan kesendirian.
“Kami cuma tinggal bertiga sekarang. Abah enggak bisa kerja, enggak bisa bangun juga. Resti jaga adik-adik ,” ujar Resti dengan suara pelan, sesekali menunduk

Kegiatan doa bersama ini merupakan bagian dari program santunan bulanan PMI Kota Sukabumi yang telah berjalan hampir empat tahun. Program ini secara konsisten menyasar anak-anak yatim dan piatu yang tinggal di perkampungan, bukan di panti atau yayasan, dan jarang tersentuh bantuan donatur rutin.
Santunan ini memang sederhana, hanya paket makanan bareng dan uang jajan sealakadarnya, tapi bagi mereka anak anak merupakan hal yang sangat dinantikan
“Saya pengin sekolah terus, tapi kadang harus jaga abah di rumah. Kalau bisa, abah sembuh suka sedih lihatnya,” harap Resti lirih.
Kegiatan doa bersama dan santunan rutin dari PMI Kota Sukabumi menjadi momen langka bagi mereka untuk merasa tidak sendiri. Di tengah keterbatasan, anak-anak ini bisa merasakan uluran tangan dan perhatian dari sesama.

“Anak-anak seperti Resti dan adik-adiknya ini sering kali luput dari perhatian. Mereka tidak tinggal di panti, tidak terdata di lembaga, tapi justru sangat membutuhkan. Inilah yang ingin kami jangkau lewat program ini,” ungkap Dinar Staf Pelayanan PMI Kota Sukabumi.
“PMI berkomitmen tidak hanya hadir saat bencana, tapi juga terus merawat nilai-nilai kemanusiaan, termasuk dengan memberi perhatian kepada anak-anak yatim,” tambahnya.
Kisah Resti, Rosi dan raiasa bukan hanya tentang kehilangan sosok ibu atau ayah yang tak lagi bisa bicara, melainkan tentang bagaimana anak-anak kecil tetap mencoba berdiri di tengah badai kehidupan. Dalam keheningan doa mereka,terselip harapan sederhana: bisa sekolah, makan cukup, dan suatu hari, melihat abah mereka sembuh.




